“Menolak Lupa” pada Perjuangan Reformasi

Judul: Misteri Lukisan Nabila
Penulis: Sihar Ramses Simatupang
Penerbit: Nuansa Cendekia
Tebal: 188 Halaman
Harga: Rp 36.000,-

Hingga kini keberadaan para aktivis Reformasi akhir ’90-an tak diketahui. Sebuah novel berjudul Misteri Lukisan Nabila bercerita tentang situasi kepedihan atas kehilangan orang yang dicintai melalui persektif berbeda.

“Tahukah kau, laut, rahasia tentang menghilangnya seorang lelaki? Diambilnya sebatang kayu yang tergeletak di hamparan pantai. Dia pun menggurati butir-butir pasir yang rata, sehingga membentuk tulisan dengan huruf Latin. Sebuah puisi. Telah hilang kekasihku… Di antara rahasia dan reformasi belum usai.”

Itulah penggalan kalimat yang dikutip dari novel Misteri Lukisan Nabila karya Sihar Ramses Simatupang. Sekasatmata, kalimat-kalimat tersebut menggambarkan kepedihan dari seorang wanita yang tengah patah hati karena ditinggal pergi sang kekasih jiwa.

Pembaca pun sekilas akan menganggap bahwa novel ini akan berkutat dalam masalah percintaan. Namun, sepenggal kalimat di baris akhir dari puisi yang digoreskan wanita itu menyiratkan sebuah pesan. Pesan bahwa ada hal lain yang ingin disajikan sang penulis melalui novel setebal 188 halaman tersebut. Bukan sekadar drama percintaan antara dua insan manusia.

Ya, novel ini secara implisit ingin “mengingatkan” kembali pembacanya pada kasus menghilangnya sejumlah aktivis politik penentang rezim Orde Baru (Orba) di tahun 1998. Kasus yang tidak pernah dituntaskan secara hukum, dan yang saat ini seakan dilupakan begitu saja.

“Tidak ada kabar sedikit pun mengenai keberadaan 13 aktivis yang hilang: Dedy Hamdun, Hermawan Hendrawan, Hendra Hambali, Ismail, M Yusuf, Nova Al Katiri, Petrus Bima Anugrah, Sony, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Yadin Muhidin, Yani Afri, Wiji Tukul. Belum lagi mahasiswa Trisakti yang meninggal oleh letusan laras senapan pada saat demonstrasi 1998,” ungkap pengamat sastra Imam Muhtarom pada Peluncuran Novel Misteri Lukisan Nabila di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (1/2).

Menurut Imam, yang ironis adalah kenyataan bahwa tokoh-tokoh militer yang berdiri di belakang rezim Orba saat itu, menjadi tokoh populer di masa kini. Hal ini jugalah yang menjadi kegelisahan sang penulis selama ini.

Melalui karyanya, Sihar mencoba menggali kembali sejumlah kasus yang tampaknya “terlupakan” oleh negara. Namun, ia tidak lantas menjabarkan segala fakta sejarah secara blak-blakan. Ia tidak melupakan unsur seni yang harus dipenuhi Misteri Lukisan Nabila sebagai sebuah karya sastra.

“Jujur, ini buku paling sulit yang pernah saya buat karena bukan semata-mata imajinasi,” kata pemilik nama lengkap Sihar Ramses Sakti Simatupang itu dalam kesempatan yang sama. Penulis lulusan Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, tersebut ingin mengajak pembaca menyelami kepedihan yang dirasakan oleh orang-orang terdekat dari para aktivis yang hilang tanpa jejak. Hal ini tersaji melalui tokoh sentral, Nabila yang berprofesi sebagai pelukis.

Dikisahkan bahwa kekasih Nabila, seorang aktivis bernama Bentar, hilang ketika memperjuangkan reformasi. Dalam novel ini, hilangnya Bentar menjadi urusan pribadi belaka, yakni urusan Nabila dan Sutarmi – wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Bentar. Orang lain belum tentu memiliki simpati yang sama ataupun merasakan kepedihan sebesar dua tokoh tersebut.

“Awalnya, saya mengira ini cerita tentang kasih tak sampai atau perempuan yang tidak berjodoh dengan kekasihnya. Tapi, ketika saya menutup buku ini, yang pertama kali muncul di benak saya adalah wajah Bimo Petrus, wajah Herman, dan kawan-kawan lain, yang sampai saat ini tidak kembali,” tutur Fransisca Ria Susanti (Santi), salah satu jurnalis yang ikut membedah buku Misteri Lukisan Nabila.

Sihar sendiri mengaku tidak ingin menyajikan rincian data ataupun fakta dalam novel ini, karena menurutnya semua itu bisa didapatkan melalu internet serta arsip-arsip berita nasional. “Tapi saya mengincar ke perasaan orang-orang yang ditinggalkan,” Sihar menjelaskan.

Kemasan Misteri

Uniknya, penulis yang juga penyair itu mengemas kisah Nabila dalam balutan misteri – sesuai dengan judulnya. Ada dua jenis misteri pada novel yang diterbitkan Nuansa Cendekia tersebut.

Yang pertama adalah misteri ala detektif, yang berusaha mengungkap hilangnya Bentar, sedangkan yang kedua adalah misteri dalam arti klenik (berhubungan dengan roh halus). Klenik di sini dimunculkan dalam wujud roh Bentar yang berusaha “mengontak” Nabila dan Sutarmi, ibunya, untuk membantu mereka menguak misteri dirinya yang hilang.

“Perihal klenik ini bukan sekadar guyon. Paling tidak saya bisa menyentuh sampai saat Bentar disiksa. Segala siksaan (itu) hanya bisa disaksikan melalui mata roh. Dengan latar belakang kristiani saya memang tidak meyakini bahwa roh bisa berhadapan langsung dengan manusia, maka saya mengakalinya dengan mimipi. Jadi, rohnya tidak pernah bertemu langsung,” kata Sihar seraya tertawa.

Ayah satu anak itu pun berharap novel ini bisa dibaca oleh seluruh kalangan masyarakat, hingga ke pelajar dan mahasiswa, agar mereka dapat mengingat jejak yang telah dibuat para pejuang reformasi, yang hingga saat ini kasusnya belum terselesaikan.

“Apa sumbangan fiksi terhadap sejarah? Saya pikir cukup besar. Fiksi adalah suatu medium untuk ‘mengingatkan’. Tulisan, dalam bentuk apa pun, memiliki kekuatan untuk menyerang pelaku kejahatan ini,” ucap Santi.[]

-Jessica Rezamonda

Sumber : Sinar Harapan
http://shnews.co/detile-14240-menolak-lupa-pada-perjuangan-reformasi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: