Resensi Novel di Tribun Jabar 29 Desember 2013

Ulasan Novel Remy Sylado di koran Tribun Jabar, Minggu, 29 Desember 2013

Ulasan Novel Remy Sylado di koran Tribun Jabar, Minggu, 29 Desember 2013

Judul: Perempuan Bernama Arjuna (filsafat dalam fiksi)
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2013
Tebal: 276 Hlm
Rp 65.000

Mengubah hal yang sulit menjadi mudah, itu merupakan langkah bijaksana. Dan apa yang dilakukan oleh Remy Sylado dengan novel ini, sewajarnya perlu diberi acungan jempol karena tindakannya.
Judul “Perempuan bernama Arjuna” barangkali tak menunjukkan sesuatu yang mendalam. Namun, sebagaimana slogan yang tertera dalam sampul depan buku ini (filsafat dalam fiksi), Remy hendak berkata bahwa novel ini bukan bacaan ringan, tetapi melalui kisah fiksi, membuat kesulitan dalam memahami filsafat akan teratasi.
muatan novel ini mengutamakan isi dengan mengulas pemikiran para filsuf dunia. Remy mengulas lebih dari 150 filsuf dunia. Secara keseluruhan terdapat 200 sosok pemikir atau tokoh penting yang termaktub dalam catatan kaki di bagian halaman belakang novel ini.

Sebuah novel di akhir tahun 2013. Berbobot untuk pencerahan manusia Indonesia

Sebuah novel di akhir tahun 2013. Berbobot untuk pencerahan manusia Indonesia

Arjuna adalah perempuan salah nama. Karena alasan kekolotan kakeknya atas tradisi Jawa, menjadikan perempuan blasteran Jawa-Cina ini bernama laki-laki. Lahir dari keluarga kelas-menengah di Semarang. Arjuna hidup dalam era globalisasi saat ini. Ia perempuan pembelajar. Minatnya pada filsafat sangat tinggi. Pada usianya yang ke 25 tahun, ia mengambil studi filsafat di Amsterdam.
Jika kita memandang sosok Arjuna ala kebanyakan orang masa kini, yaitu meletakkan dikotomi konservatif dan liberal, maka Arjuna adalah sosok liberal. Konstruksi sosok ini paling tidak bisa dilihat dari sikapnya tetap percaya Tuhan, sedikit kurang akur terhadap agama dan tindakannya lebih berpijak pada pedoman logika. Artinya, Arjuna berani melawan ajaran agama dan memilih tindakan atas dasar kalkulasi nalarnya.
Bisa dikatakan novel ini sangat mendalam untuk sebuah renungan hidup anak manusia. Pencarian akan nilai ketuhanan dalam diri manusia dibicarakan secara kritis dan menukik kesadaran batin paling mendalam. Di luar itu, perihal sikap kritis terhadap realitas sosial-politik juga tertuang secara cerdas, dan seperti biasa, Remy selalu menghadirkan idiom-idiom kocak yang akan membuat kita terpingkal-pingkal tertawa.
Menyangkut urusan kelamin yang cukup banyak mewarnai alur cerita ini, tentu bukan karena tujuan mengeksploitasi sahwat, tetapi karena memang didasarkan pada alasan ilmiah, yaitu kajian biologi Darwinian. Sisi seksualitas itu menjadi topik yang unik ketika Arjuna harus jatuh cinta pada dosennya, Van Damme, seorang Jesuit asal Banneux Belgia yang dikatakan dalam novel itu, “kelihatannya kebanci-bancian tapi ternyata seorang koboi heunceut yang liar di atas ranjang”, dan menjadi mitra kencan Arjuna.’
Dengan memakai optik perempuan dalam memandang beragam aliran pemikiran filsafat, novel ini terasa lebih hidup. Hadirnya novel ini tentu menyegarkan dahaga para pecinta sastra nasional, juga penting sebagai bacaan para peminat filsafat-sains. Di tengah-tengah kemerosotan karya fiksi nasional, sekarang kita dapatkan novel bermutu. [ Sumber: Tribun Jabar, Minggu, 29 Desember 2013]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: