Jejak Cinta Perempuan Pemikir

Filsafat selama ini telah menjadi momok bagi otak setiap manusia. Tetapi ia bukanlah hantu yang dijauhi, melainkan hantu seksi yang sering coba-coba kita dekati dengan segenap cara. Hal yang menakutkan hanya karena filsafat itu menyulitkan, tetapi jika sudah mampu didekati dan benar-benar dipahami, ia merupakan teman intim hidup yang paling menyenangkan dan tak pernah membosankan.

Itulah mengapa banyak kaum cerdik cendekia selalu mencoba menghadirkan filsafat dengan berbagai cara agar mampu mendekat ke masyarakat. Salah-satunya ialah upaya Remy Sylado melalui novel berjudul Perempuan Bernama Arjuna ini.

Novel ini berkisah tentang perempuan berasal Indonesia, keturunan Jawa-Tionghoa yang sedang belajar menempuh studi di Belanda. Ia menyukai filsafat sebagai bagian dari proses hidupnya. Kegemarannya adalah bertanya melalui diskusi, ruang kuliah dan rajin membaca buku. Perempuan tipikal Arjuna ini menjadi menarik karena ia tergolong lain dari kebanyakan perempuan Indonesia yang maaf, kurang minat terhadap dunia pemikiran secara mendalam.

Remy memulai masuk ke wilayah kritisisme terhadap fenomena kehidupan kaum perempuan dengan menulis “perempuan tidak melulu harus dipandang pada wajah, tapi harusnya dilihat juga pada hati, otak, dan kadar intelektualitasnya. Buat apa cantik kalau otaknya dungu?”

Dengan mengambil ikon perempuan dalam ruang filsafat ini, Remy setidaknya sedang membuka perspektif lain, bahwa perempuan di Indonesia sudah sepantasnya memperkuat pemikiran, dan bukan sekadar mempercantik diri. Karena perempuan adalah manusia, maka penting ia harus memperkuat akalbudi yang menjadi aset paling mahal dari sisi kemanusiaan.

Menyelami dunia filsafat melalui fiksi itu sesuatu kemewahan tersendiri.  Ada ratusan pemikiran filsuf dunia yang digelar dalam novel setebal 273 halaman ini.  Tersebut filsuf-filsuf yang diuraikan antara lain, Plato, Aristoteles, Zeno, Anaxagoras, Parmenides, Diogenes, Pythagoras, Nietzsche, Darwin,Wittgenstein, Spinoza, Nero. Schopenhauer, Kant, Kierkegaard, Hegel, Marx, Feuerbach, Aquinas, Al-Ghazali, Galileo, Kepler, Descrates, Rousseau, Diderot, Bacon, Tillich, Konghucu, Hobbes, Barth, Sartre, Zebedeus, Erigena, Luther, Heidegger, Hussrel, Shakespeare, Seneca, Goeth, Goethe, Xenophanes, Popper, dan lain sebagainya.

Satu persatu pemikiran filsuf direkam dengan memakai cara pandang  Arjuna dan aktor-akor lain yang menjadi bagian utama novel ini. Untuk urusan kocak Remy memang jagonya. Kita bisa terpingkal-pingkal karena humor-humor yang senantiasa muncul di bagian-bagian tertentu. Dan yang tak kalah sensasionalnya adalah soal esek-esek. Seks yang telah menjadi bagian darang-daging manusia tak bisa dipisahkan dari kehidupan, apalagi ketika berbicara evolusi. Cobalah simak kutipan ini:

“….Acapkali saya tergoda untuk berpikir menurut pola vitalisme, yaitu gaya hidup yang dikritik widya teologi sebagai bagian dari pandangan biologi Friedrich Nietzsche, bahwa senyampang muda dan kuat, katakan saja dengan berani: Tuhan sudah mati. Lalu hidup senang tanpa Tuhan. Dan, kesenangan yang paling indah, gerangan ada di dalam vagina. Ah, rasanya saya akan menyebut vagina dengan huruf V. Jika dua jari, telunjuk dan jari tengah diacungkan, maka V di situ berarti juga victory, kemenangan. Maka katakanlah, melalui V, perempuan mengalahkan lakilaki, memenangkan pertempuran sekaligus peperangan….”

Seksualitas dalam pandangan novel ini cukup penting diperhatikan, bukan karena saru atau porno-nya, melainkan karena dimensi pemikirannya yang mendalam dan menyentuh sendi-sendi dari hakikat evolusi manusia.

Pada sisi susastra mungkin novel ini bisa disebut mengambil jalur lain dari kebiasaan para penulis novel, termasuk dari kebiasaan Remy menulis. Perempuan bernama Arjuna lebih mengutamakan isi/substansi daripada setting konflik sehingga bacaan ini lebih bisa dinikmati sebagai bacaan ilmiah ketimbang fantasi.

Tetapi kita percaya, apapun kreativitas harus diterima sebagai kekayaan model. Dan Remy memang lihai mengajarkan kita tentang filsafat melalui novel. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana belajar filsafat seluas ini jika tidak dikemas dalam dialog, alur dan kisah hidup manusia. Dan Arjuna menjadi tempat Remy untuk mensosialisasikan cara pandang anak muda Indonesia, terutama kaum perempuan untuk berpikir kritis, berani dan tidak malu-malu kucing dalam keterbukaan di era modern ini. Selamat menyemali dunia akal-budi.

Syarif Yahya. Pustakawan.

 

Judul: Perempuan Bernama Arjuna (filsafat dalam fiksi)

Penulis: Remy Sylado

Penerbit: Nuansa Cendekia, 2013

Tebal: 276 Hlm

Harga: Rp 65.000

Sebuah novel di akhir tahun 2013. Berbobot untuk pencerahan manusia Indonesia

Sebuah novel di akhir tahun 2013. Berbobot untuk pencerahan manusia Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: