Kisah Perempuan Bernama Arjuna

Oleh: Safik Yahida (T.H. Ihsan)

Dimuat Di Pikiran Rakyat, Kamis, 20 Februari 2014

Perempuan Bernama Arjuna adalah salah satu buku terbaru sastrawan terkemuka Remy Sylado. Dengan terbitnya buku Perempuan Bernama Arjuna, setidaknya menggembirakan bagi para pembaca fiksi, sebab Remy Sylado adalah seorang penulis serius dan konsisten. Lihat saja, pada novel awal yang ia buat, judulnya Garida pada tahun 1974.

Sebagai pengarang termemuka, Remy Sylado mendapat anugrah Achmad Bakrie untuk bidang kesusastraan pada tahun 2013 dari Fredoom Institute. Tidak salah pula, dari tangannya lahir karya-karya fiksi, pokok-pokok bahasa dan filsafat yang dapat dinikmati siapa saja.

Buku Perempuan Bernama Arjuna karya Remy Sylado ini dicetak tahun 2013 oleh penerbit Nuansa Cendekia, selain buku-buku: 123 Ayat-ayat Tentang Seni (2012), Kamus Isme-Isme (2013), Drama Sejarah 1832 (2012) dan Gali Lobang-Gila Lobang (2013). Uniknya, dari beberapa buku yang terbit itu, Remy Sylado agaknya senang memakai nama yang berbeda; Yapi Tambayong.

Untuk mengawali membaca kisahan itu, marilah melihat buku terbaru itu. Kali ini, buku Remy Sylado dituliskan semacam meme “bukan bacaan ringan”. Tidak lupa, dilengkapi ilustrasi seorang perempuan. Di bawah judul buku, dituliskan sebuah genre, “Filsafat dalam Fiksi”.

Arjuna, tokoh utama yang menarasikan kisah menarik tentang kehidupan pribadinya; pembelajar filsafat dan kisah cinta dengan seorang pengajarnya. Nama Arjuna memang bukan seperti biasanya, nama Arjuna bukan seorang lelaki, ia adalah seorang perempuan.

Dapat dilihat, pemerian namanya tergolong “langka” untuk seorang perempuan. Arjuna adalah sebuah nama dari kecelakaan taksiran keluarganya. Ini dapat dilihat, “Muasalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan saya lahir sebagai anak laki-laki dan untuk itu kepalang di usia 7 bulan dalam rahim ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah-putih bagi Arjuna disertai baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga dari awal syiar Islam di tanah Jawa. (hal 5).

Tapi, dengan “ketidaksengajaan” pada pemerian nama, Arjuna berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain–mungkin sebaya–ia pembelajar filsafat yang tekun. Arjuna menjadi mahasiswa filsafat di sebuah perguruan tinggi di Belanda. Ditemani Amin al-Ma’luf, ia mengisahkan dirinya yang menyenangi filsafat dari klasik hingga modern, dari teologi ke kosmologi.

Setiap harinya, ia tidak luput dari pemikiran-pemikiran filsafat yang selalu mempertanyakan muasal alam, Tuhan dan manusia. Tersebab, ia belajar (kuliah) di jurusan filsafat, mau tidak mau ia harus menyoalkan pemikiran dan mengetahui setiap filsuf dengan corak pemikirannya. Arjuna, harus pula membaca bahan-bahan (buku) untuk membantu kuliahnya itu.

Sampai pula, ia gemar merenung dan berdiskusi. Ketika di kelas, dosen yang bernama Bloembergen sering mengajak diskusi tentang filsafat klasik dengan Arjuna. Selain ditemani diskusi-diskusi wacana tentang filsafat modern bersama Amin al-Ma’luf, teman satu kelasnya di jurusan filsafat. Memang, tidak seperti umumnya perempuan, Arjuna memlih jalan filsafat untuk belajar tentang kehidupan.

Kodrat seorang perempuan tak dapat dinapikan Arjuna. Seorang perempuan segarang apapun “nalar”; Arjuna sangat liar pemikiran filsafat-nya, ia pun khatam persoalan bahasa, terlihat dari renungan atau komentar-komentar selama kuliah, tapi tetaplah Arjuna itu seorang perempuan.

Misalnya, peristiwa menarik dialami Arjuna ketika merasakan “galau”. Arjuna jatuh cinta kepada pengajarnya Profesor van Damme. Rasa jatuh cinta itu meracau pada Arjuna, bagaimanapun Arjuna terpukau, dapat dilihat dari gaya tutur Van Damme. Simak dialognya, “cantik!” kata Van Damme. “Saya suka pertanyaan itu: ‘mengalirkan frustasi’. Ya, ya, cantik.” (hlm 141)

Selama kuliah filsafat, Arjuna mempelajari filsafat dan teologi dari Van Damme. Tidak disangka, dari pengajaran filsafat ke pertanyaan dan berakhir dengan dialog, mereka berdua akhirnya saling suka. Alurnya berjalan sederhana saja, seringnya mereka bertemu di kampus dan membuat mereka melanjutkan pertemuan di rumah kontrakan Arjuna. Akhirnya, saling suka-menyukai pun tak dapat dihindari.

Namun, Arjuna juga sebagai orang timur–keturunan Cina-Jawa–akhirnya tidak melupakan tradisi sebagai seorang perempuan ke-timur-an. Akhirnya, ia menikah dengan Van Damme dan berbulan madu ke Bandung.

Cakrawala filsafat
Kisahan Perempuan Bernama Arjuna tidak seperti buku “fiksi” pada umumnya, buku ini dibubuhi catatan kaki yang hendak memberi jangkauan yang luas bagi para pembaca. Setidaknya, ini dapat dibaca dalam cetakan tebal (hitam) para tokoh yang diujarkan dalam monolog dan dialog Arjuna; dengan Amin al-Ma’luf, Profesor Van Damme, Profesor Bloembergen. Setiap pemikiran diulas baik dari sisi sejarahnya dan apa yang dikatakan para filsuf; ulasan lebih dari 150 filsuf dunia.

Selain senarai dari pemikiran filsafat, dalam catatakan kaki, diulas juga para tokoh kebudayaan kontemporer: sastra, teater, musik termasuk tokoh-tokohnya. Catatan kaki ini sebagai horison yang dikisahkan Arjuna untuk ditindaklanjuti oleh pembaca. Tentunya, ditindaklanjuti sebagai aras pengetahuan.

Membaca buku ini, kisahan yang menarik tentang hidup keseharian dapat diambil juga sebagai perenungan. Memang, tidak berkutat pada filsafat saja, buku ini asyik dibaca karena di dalamnya disertakan potret gaya hidup seksualitas perempuan dan laki-laki dari sudut pandang biologi evolusioner. Terutama, pandangan antara Barat dan Timur: etika.

Data Buku
Judul: Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat dalam Fiksi
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Tebal: 276 hlm
Harga: 65.000,00
Cetakan I November 2013
ISBN: 978-602-8395-80-9988422_774386479239962_149694929724142814_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: