Mengenal Ihya Ulumuddin

Penulis: Imam Al-Ghazali
Penerjemah: Purwanto, B.Sc.
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Kertas: Premium Book paper 52 gram
Cover: Soft cover
Tahun: Cetakan II [Revisi], Juni 2014/Sya’ban 1435
Penerbit: Marja
ISBN: 978-602-7768-56-7

Harga: Rp 490.000IHYA-ULUMUDIN-12-Jilid

 

Kitab fenomenal berusia ratusan tahun ini lahir dari situasi zaman yang bergejolak. Sang penulisnya mengerti kebutuhan masyarakat dan memenuhi dahaga spiritual. Mengabadi sepanjang sejarah, terbit berulang-ulang dalam berbagai bahasa, dan kini hadir melalui Penerbit Marja’ Bandung dengan kualitas yang bagus.

Ihya’ Ulumuddinbermakna ‘menghidupkan ilmu-ilmu agama’. Menurut Al-Ghazali, penulisnya, kitab itu ditulis atas sebuah dorongan kepedulian atas keadaan sosial masa itu, di mana ilmu agama ‘hampir mati’. Peperangan dan konflik politik bukan hanya menyita energi umat Islam, melainkan juga menimbulkan kerusakan pemahaman-pemahaman agama menjadi sebatas paham politik yang pragmatis.

Apa yang dikatakan Al-Ghazali memang bukan isapan jempol. Kehidupan umat Islam di era awal abad ke-10 M, atau sekitar 500 H, kebanyakan pemuda dan pembesar negeri lebih tertarik untuk mencurahkan waktu pada perang. Maka ilmu agama pun ternomorduakan. Al-Ghazali hidup pada masa Perang Salib (1096-1291), masa hati para pemuda mudah dikobarkan dengan kegeraman dan kemarahan. Akibatnya, kemerosotan keilmuan Islam kala itu dilukiskan oleh Al-Ghazali sebagai sebatas fatwa yang tegas, sajak yang menggetarkan hati, atau nasihat yang menyentuh. Menurut Al-Ghazali, ilmu hanya dipelajari lahiriahnya, tanpa didalami makna batinnya.

Kepekaannya terhadap situasi tersebut, Al-Ghazali melihat semangat perang bukanlah sesuatu yang mutlak positif, karena di sisi lain terjadi kemunduran dalam semangat mencari ilmu agama. Karena alasan inilah ia lebih memilih untuk mengkaji kesabaran, kekhusyukan, keikhlasan, dan tawakal di tengah umat yang sedang terbakar amarah, emosi, dan ambisi. Namun, pilihan jalan hidup Al-Ghazali itu tidak serta-merta didukung oleh semua kalangan.

Justru apa yang dilakukannya menuai kritikan dan kecaman dari ulama lain, baik yang semasa maupun generasi setelahnya. Ia dikecam karena dianggap tidak memiliki ruh jihad dan tidak peduli pada Perang Salib. Hampir dipastikan, seluruh karya tulisnya, termasuk Ihya Ulumuddin yang diterbitkan Penerbit Marja’ ini, tidak menyinggung Perang Salib. Meski demikian, mereka yang mengkritik itu tetap mengakui Al-Ghazali sebagai sufi yang berilmu tinggi.

 

Kehidupan Intelektual

Al-Ghazali lahir dengan nama Muhammad. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, nama kuniyah-nya Abu Hamid, dan nama laqab-nya Zainudin. Masyhur dipanggil Al-Ghazali saja. Kalangan Sunni meyakininya sebagai mujadidabad ke-5 Hijriah yang berjuluk Hujjatul Islam (hujah agama Islam)Lahir di Thus, provinsi Khurasan pada 450 H/1056 M. Ayahnya seorang pemintal benang—yangdalam bahasa Arab disebut ghazal.Dari situlah Muhammad dijuluki Al-Ghazali(anak pemintal benang).

Menjelang ajal, sang ayah menitipkan dia dan saudaranya, Ahmad Al-Ghazali, kepada seorang guru sufi, berikut harta warisan yang tidak seberapa untuk bekal mereka. Sang sufi pun mendidik kedua anak itu dengan penuh amanah hingga harta warisan itu habis. Ketika guru sufi itu merasa tidak mampu lagi menghidupi mereka, dia pun memindahkan mereka ke sebuah madrasah yang memberikan beasiswa kepada murid-muridnya. Maka berangkatlah keduanya untuk belajar di madrasah itu. Sesuai takdir, madrasah tempat mereka belajar berhasil membentuk Muhammad Al-Ghazali menjadi pribadi yang pandai dan agung.

Gurunya yang paling berpengaruh di madrasah itu adalah Ahmad bin Muhammad ar-Radzakani. Kemudian Al-Ghazali berhijrah ke Jurjan untuk menimba ilmu pada Abu Nashir al-Isma’ili. Ilmu yang diperoleh darinya dituliskan Al-Ghazali dalam lembaran-lembaran, yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Suatu hari, ketika dia kembali ke Thus, perampok mencegatnya dan merampas seluruh bawaannya. Al-Ghazali merelakan seluruh hartanya diambil, tetapi dengan memelas dia meminta agar kumpulan lembaran miliknya dikembalikan. Itulah bukti cintanya pada ilmu.

Dia tinggal di kampung halamannya selama tiga tahun. Di sana dia menghimpun, mengkaji, dan mendalami ilmu-ilmuyang telah diperolehnya di Jurjan. Selanjutnya dia berangkat ke Naisabur, mengabdi pada Imam Haramain (419-478 H). Di situlah dia mencapai kesempurnaan ilmu dalam mazhab Syafi‘i, dan di masa itu pula dia mulai mengkaji filsafat. Maka, tampillah dia sebagai alim dan filsuf yang pandai berargumentasi.

Puncak karirnya sebagai seorang cendekiawan adalah ketika ia hadir di majelis ilmiah wazir Kesultanan Seljuk, Hasan bin Ali bin Ishaq ath-Thusi, yang berjuluk Nizamul-Mulk. Al-Ghazali tampil sebagai pemenang dalam setiap debat karena ia mampu memadukan kekuatan hafalan dalil naqli dengan kemampuan logika. Masyhurlah nama Al-Ghazali di seantero negeri sebagai alim yang pandai bertutur ilmiah.

Kepiawaiannya itu membuat Nizamul-Mulk mengangkatnya sebagai guru di madrasah Nizamiyah di Baghdad (484 H), dan saat itu dia masih berusia 34 tahun. Sejak itulah Al-Ghazali memulai babak baru kehidupannya sebagai orang yang berkehidupan layak. Kini, ia memiliki banyak kesempatan untuk menulis dalam berbagai disiplin ilmu. Namun, berlimpah kekayaan justru membuat hatinya gundah, dan merasa terbebani. Bersamaan dengan itu, ia menelaah banyak kitab tasawuf, seperti Qût al-Qulûbkarya Abu Thalib al-Makki, kitab-kitab karya Harits al-Muhasibi, petuah-petuah dari Al-Junaid, Asy-Syibli, dan Al-Busthami.

Hal ini benar-benar mempengaruhi nalar Al-Ghazali. Ia pun meninggalkan Baghdad dengan hanya berbekal timba, menuju Makkah melalui Syam. Di Syam, ia singgah selama dua tahun hanya untuk berkhalwat, beriyadah, dan berzikir di menara Masjid Damaskus. Kemudian ia menuju Baitul Maqdis untuk berkhalwat di dalam Kubah Shakhrah. Selanjutnya dia menunaikan haji dan berziarah ke makam Rasulullah. Lalu ia kembali ke Thus, dan terus mengasingkan untuk bertafakur.

 

Memahami Ihya Ulumuddin

Ihya’ Ulumudin menjadi penting disetiap kepustakaan para fukaha dan sufi, karena kitab ini yang pertama memadukan antara fikih lahiriah dan fikih batiniah, dan tertulis oleh dasar lelaku, bukan sekadar ide. Kitab ini pun menjadi santapan wajib bagi seorang fakih yang sekaligus sufi.

Oleh pengarangnya, kitab ini dibagi menjadi empat bab:

Kitab al-‘Ibadât, mengupas seputar ilmu dan fikih serta rahasia ibadah. Terdiri dari delapan kitab bagian: kitab ilmu; kitab kaidah akidah; kitab rahasia shalat; kitab rahasia zakat; kitab rahasia puasa; kitab rahasia haji; kitab adab membaca Al-Quran; kitab zikir dan doa.

Kitab al-‘Adât, mengupas hukum muamalah dan hukum-hukum perdata. Bab ini mencakup sepuluh kitab: kitab adab makan; kitab adab nikah; kitab adab kerja; kitab halal-haram; kitab persaudaraan dan kasih sayang; kitab adab uzlah; kitab adab safar; kitab adab mendengar dan hukum musik; kitabamar ma‘ruf nahi munkar; kitab akhlak Nabi Saw.

Kitab al-Muhlikât, mengupas akhlak-akhlak tercela berikut penyebab dan akibatnya. Bab ketiga ini berisi sepuluh kitab: kitab keajaiban hati; kitab riyadah hati; kitab mengendalikan syahwat; kitab bahaya lisan; kitab tercelanya marah, dendam, dan hasud; kitab tercelanya dunia; kitab tercelanya kikir dan cinta harta; kitab tercelanya pangkat dan pamer; kitab tercelanya sombong dan kagum pada diri sendiri; kitab tercelanya orang-orang yang tertipu (duniawi).

Kitab al-Munjiyât, mengurai akhlak-akhlak terpuji yang menyelamatkan. Juga terdiri dari sepuluh kitab bagian: kitab tobat; kitab sabar dan syukur; kitab takut (kepada Allah) dan pengharapan; kitab fakir dan zuhud; kitab tauhid dan tawakal; kitab cinta, rindu, bahagia dan rida (kepada Allah); kitab niat, ikhlas, dan jujur; kitab muhasabah; kitab tafakur; kitab ingat mati dan perihal kematian.

 

Antara Pengagum dan Penentang

Al-Ghazali adalah ilmuwan dan sekaligus penulis ulung. Karyanya Ihya’ Ulumudin begitu memikat para peminat ilmu, karena beberapa hal.Pertama, diurai dengan metode pikir yang tajam. Setiap uraiannya, baik naqli maupun aqli, selalu dituturkan dengan detail dan mudah dipahami. Ia juga selalu menyertakan alasan logis sebagaimana para filsuf. Kedua, ia menguraikanpembahasannya dengan membaginya ke dalam bagian-bagian yang sistematis. Hal ini sangat memudahkan bagi orang yang menghafalnya. Ketiga, kitab ini yang pertama memadukan fikih lahiriah dan fikih batiniah.Keempat,menjelaskan hal-hal yang agak sulit dengan member tamtsil (perumpamaan), terutama dalam membahas ilmu batin (asrâr). Kelima, layaknya dokter, Al-Ghazali menuliskan detail penyakit hati berikut solusi pengobatannya. Keenam, menyertakan banyak kisah penuh hikmah sebagai oase yang menyegarkan.

Tentu, tak ada gading yang tak retak, atau seperti kata pepatah, “Ketika sesuatu telah sempurna maka akan tampakkekurangan.” Dengan Ihya’-nya, Al-Ghazalidipuji sebagai alim yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Namun, karena satu ilmu yang belum sempurna dikuasainya, sebagian kalangan meragukan kebenaran buah pikirnya. Ilmu itu adalah ilmu hadis dan riwayat. Konon, Al-Ghazali baru mendalaminya di akhir hayatnya, namun ajal tergesa menjemputnya sebelum ilmu itu sempurna dikuasainya. Di situlah kelemahan Ihya’, sehingga banyak hadis dha’if dan yang tak dikenal perawinya ditemukan di dalamnya. Inilah sebabnya sebagian pihak mengkritik dan mencla adi karyanya itu.

Jika para pengagum menyebut kitab Ihya’ sebagai ‘hampir seperti Al-Quran’ (kâda Ihyâ’ yakûnu qur’anan), maka para pengkritik menyebutnya ‘hanya menghidupkan agama Al-Ghazali, bukan agama kaum Muslim’. Jika para pengagummerasa mendapat pahala dalam menyebarkan dan mengajarkan Ihya’, maka para penentangmerasa benar dalam membakarnya. Satu pihak menyebutnya mujaddid(pembaharu), sedangkan pihak lain menyebutnya mubtadi‘ (penyebar bid’ah).

Di antara ulama pengagumi Al-Ghazali adalah gurunya sendiri, Imam Haramain. Ia berkata, “Al-Ghazali adalah lautan yang luas.” Demikian pula muridnya, Muhammad bin Yahya, berkata, “Al-Ghazali adalah Syafi‘i kedua.” Dan ada Ibnu Najar yang berkata, “Al-Ghazali adalah imam mutlak para fukaha secara mutlak dan pengajar umat Islam secara mufakat, mujtahid dan sumber limu pada masanya.”

Sementara itu, di barisan penentang terdapat nama-nama berikut. Muhammad ath-Thurtusyi (w 520 H), ulama mazhab Maliki dari Spanyol, berkata, “Al-Ghazali tidak paham tasawufnya.” Abu Abdillah al-Mazari (w 536 H), ulama mazhab Maliki, mengkritik kelemahan Ghazali dalam ilmu hadis. Ia juga berkata, “Al-Ghazali pandai berfilsafat sebelum menguasai ushuluddin.”

Ibnu al-Jauzi (w 597 H)menyindir Al-Ghazali dalam kitabnya Talbis al-Iblis (tipuan iblis)Konon, ia menulis risalah I‘lam alIhya’ bi Aghlazhil Ihya’ (pengetahuan orang-orang hidup atas kesalahan kitab Ihya’). Bahkan ia menyebut Al-Ghazali, dalam kaitannya dengan ilmu hadis, sebagai hathibul-lail(pencari kayu bakar di malam hari), yang mengambil setiap kayu yang ia temukan tanpa memilah.

Ibnu Taimiyah (w 728 H) menganggap karya-karya Al-Ghazali sebagai ilmu filsafat semata yang dibumbui akidah Qaramitah, seperti tertulis dalam Ar-Risalah as-Sab‘iniyah yang terkandung dalamFatawi Kubra.

Demikianlah sunatullah. Tidak ada manusia sempurna, selain Muhammad Saw. Namun, harus diakui bahwa pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumudin telah melahirkan banyak sufi, orang saleh, dan salik. Ihya’ adalah kitab yang paling menginspirasi kaum Muslim setelah Al-Quran dan Sunnah, yang jarang ada karya yang menyamainya.

Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, banyak orang yang menganggap isi kitab Ihya Ulumuddin menjauhkan orang dari cara berpikir logis-modern. Namun, kalau dibaca dengan saksama, tidak ditemukan sikap ekstrem Al-Ghazali dalam menentang rasio-modern. Barangkali, kecurigaan tersebut muncul karena pengaruh argumentasi Ibn Rusyd dalam menyanggah kritik Al-Ghazali terhadap logika-logika Barat yang digunakan pada filsuf.

Karena itu, perlu diketahui bahwa kandungan Ihya Ulumuddin bukanlah wacana pemikiran filsafat atau politik, melainkan panduan untuk mencapai derajat spriritual. Dengan kata lain, kitab ini merupakan pedoman dalam meningkatkan spiritualitas, bukan metode berpikir filsafat atau pemikiran sainstifik. Itulah sebabnya Ihya Ulumuddin lebih cocok didudukkan sebagai kitab pembangunan spiritual yang akan membekali pembaca kecakapan menata diri dalam menghadapi kehidupan. Ihya Ulumuddin tidak mengajak kita menentang zaman, melainkan membekali kita untuk mengenal hakikat dunia dan berbenah diri agar mampu menghadapi problem-problem hidup di era modern ini. Kitab ini tetap relevan karena tidak memuat anjuran-anjuran ekstrem untuk menolak paham atau ideologi tertentu. Hal ini selaras dengan kebutuhan umat Islam yang ingin meraih kualitas hidup sebagai makhluk yang humanis dan berdaya-guna di tengah masyarakat.[]

Syarif Yahya

(Penulis buku-buku Agama. Pengajar di Pondok Pesantren Ridlo Allah, Temanggung, Jawa Tengah)

Daftar pustaka:

Tajudin as-Subuki, Thabaqat al-Kubra. Darul Fikr, Beirut 1996.

Dr. Yusuf Qardhawi, Al-Ghazali baina Madîhihi wa Naqîdihi. Mausu’ah Risalah, Beirut 1994.

Dr. M. Said Ramadhan al-Bouti, Al-Imam al-Ghazali Dzu Fikr Minhajiyin. Majalah At-Turats al-Arabi, 1986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: